Friday, January 15, 2016

Pengalaman mengajar smk dan pj teknis

January 15, 2016 4 Comments
2011 pernah ngontrak rumah lalu bekerja di pbf obat jadi di daerah abdurahman saleh, jaraknya cukup dekat tinggal jalan kaki, disini saya merasa lagi bukan layaknya apoteker tapi sebagai administrasi dan tukang angkat2 barang hehe, sampai2 pernah jatuh dari tangga karena pusing kecapekan, lagi2 bertahan disini hanya 3bulan, ada kejanggalan disini dimana kesepakatan gaji awal adalah 1juta 750ribu tapi pas gajian hanya dikasih 1juta 250ribu.

Sama halnya dengan apotek kerja sebagai penanggungjawab teknis harus ada rekomendasi dari ikatan apoteker indonesia, perijinan dari dinas kesehatan kota, dinas kesehatan propinsi dan balai besar pengawas obat dan makanan, sertifikat kompetensi apoteker, surat tanda registrasi apoteker juga surat ijin kerja apoteker dan perjanjian kerjasama dengan direktur perusahaan dari notaris.
Berarti sudah 3x nih punya akte notaris hehe, dan tentunya surat pembatalan kerjasama dengan perusahaan sebelumnya.

Di pbf atau pedagang besar farmasi barang2 dan obat2an lebih banyak karena pbf obat jadi menyalurkan obat2an dari industri farmasi ke apotek2 dan toko obat.
Disini kerja ngurus faktur2 pembelian dan penjualan, angkat telfon dari apotek2, bikin surat pesanan dan koordinasi dengan sales obat pbf buat mendistribusikan ke apotek2 dan toko obat.
Selain adanya perbedaan kesepakatan awal, lagi2 tersangkut perijinan, seperti apotek2 terdahulu yang pernah dikelola ijin tersangkut di kelengkapan administrasi perusahaan dan direksi, biasanya karena belum punya ijin gangguan atau HO yang diurus ke pemerintah kota dan biasanya direksi tidak mau tanda tangan di atas materai bahwa belum pernah terlibat pelanggaran undang2 dan tidak pernah tersangkut hukum atau tidak pernah menggunakan obat2 terlarang.

Hikmahnya kerja di pbf ini bisa punya surat pembatalan kerjasama diatas materai dengan direktur karena apotek sebelumnya direkturnya tersangkut kasus hukum.

Tahun 2013 mengajar di smk daerah mranggen karena rumah di plamongan indah yang masuk kecamatan mranggen.
Seperti biasa mengajar adalah hal yang bikin seneng karena berbagi ilmu, disini aku mengajar selama 1tahun setengah atau 16 bulan, seperti biasa honor mengajar tidak seberapa hanya 300ribu sampai 700ribu rupiah sebulan, tapi ada kepuasan batin, aku mengajar etika pelayanan farmasi, kimia farmasi analisa dan simulasi digital.

Murid dari kelas 1, 2 dan 3 dekat semua denganku, ada yang bandel cari2 perhatian karena mereka merasa jauh dari keluarga tidak boleh pegang handphone karena mereka sekolah sekalian pesantren, mereka merasa orangtuanya hanya memberikan uang dan jauh gak peduli sama mereka.
Seperti kebanyakan anak remaja lainnya ada kenakalan2 seperti pacaran dan ada yang kebablasan sampai hamil, miris dan sedih memang, masa depannya gimana, ada yang anak pembantu tapi cukup cerdas dan rajin, ada yang minum pil ambil di laboratorium muntah2 karena obat2an buat praktek adalah obat kadaluarsa dicampur coca cola sama fanta, Yaa Allah kasian anak2 itu.

Waktu itu sering berdebat dengan yang punya yayasan dan guru2 lainnya kita harus tegas tapi luwes sama anak, dan kita lakukan pendekatan, tapi hanya sedikit yang mendukung.
Dan satu hal yang bikin saya merinding sistem penilaian, masa kita harus meluluskan murid yang nakal, gak rajin bahkan nilai ancur dibawah rata2, bukan masalah tidak kasian tapi kita pendidik harusnya mengajarkan kejujuran dan sikap rajin pada anak, jangan karena anak merasa ini sekolahan baru demi jaga imej dan biar tahun depan muridnya banyak, murid yang nakal tidak rajin juga nilainya tidak memenuhi standar diluluskan bahkan naik kelas.

Sekolah bukan hanya angka lulus dari segi nilai tapi ahlak dan disiplin juga kejujuran. Apa gunanya guru memberi ujian tengah semester atau akhir semester ketika semua harus dinilai lulus semua, kasihan murid yang belajar keras dan sikapnya baik juga rajin. Apa gunanya perubahan kurikulum atau rancangan pembelajaran per semester sementara gurunya aja harus ikut diklat K13 dan membuat RPP atau rancangan pembelajaran persemester, miris hati ini jika dunia pendidikan bobrok gini gimana masa depan Indonesia, hanya secarik nilai di rapot yang menyatakan lulus.

Kecewa iya sangat, tapi tidak bisa berbuat apa2 karena yang selalu jujur pasti tersingkir oleh penjilat dan gila kekuasaan demi rupiah yang tidak seberapa.
Tetapi setidaknya murid2 yang dulu mengikuti prinsipku dan kejujuran juga kedisiplinan ada yang mengirim pesan singkat bahwa mereka berterimakasih atas disiplin, ilmu dan kejujuran karena katanya bermanfaat.
Alhamdulillah setidaknya masih ada yang mau menerapkan nilai2 kebenaran yang sejatinya Islam ajarkan.
Dunia ini fana, akhirat lah yang kekal abadi.

Wednesday, January 13, 2016

Pengalaman Mengajar mahasiswa D1 dan APA

January 13, 2016 0 Comments
Taun 2010 aku pernah mengajar di  lembaga asisten keperawatan, mata kuliah yang kuajarkan adalah etika keperawatan, administrasi keperawatan dan mikrobiologi.

Hari pertama ngajar kuingat diriku duduk barengan mahasiswa dan mahasiswi baru, eh ada yang ngajak kenalan dari smu mana, kujawab aja dari smu jabar, nah begitu kelas dimulai dia agak kaget kok ternyata dosen pengampunya.

Mahasiswa dan mahasiswi ada yang antusias, yang ngantuk pun ada, yang cuma liatin wajah ya ada, yang ngelamun sama mainin hp juga ada, tapi kalau dengan tegas kita melarang biasanya pada nyimak kok, mahasiswa waktu itu cuma berjumlah 20 orang karena ini lembaga pelatihan kerja yang nantinya jadi asisten perawat, ngajar disini cuma setengah semester tepatnya 3bulan, sayang dihentikan karena yang punya yayasan terkena stroke sehingga biaya operasinal tidak ada biaya, di samping itu mahasiswi ada yg keluar karena hamil di luar nikah juga malah keluar karena tidak ada biaya.

Padahal biaya cukup murah, kita dosennya aja cuma dihonor 120ribu pe 150ribu per bulan, dulu aku sambil nyambi sebagai apoteker pengelola apotek/APA di apotek yang terkena shift malam, kadang ngajar pagi, lanjut apotek malem, hmm inget waktu itu rumah kontrakan di majapahit, apotek di imam bonjol, ngajar di kedung mundu, klo pas ada suami dianter jemput pake motor, kalau suami keluar kota ngangkot 3x naik angkot, sering kukurilingan nyasar karena waktu itu baru setaun tinggal di semarang, mana angkot oranye semua lagi plus mata minus gak keliatan tulisan jurusan apa, waktu itu dapet gaji di apotek 1, 3 juta perbulan mana klo shift malem kalau suami gak ada dianter satpam atau cleaning service ke rumah aku kasih upah 10ribu, beca juga langganan kalau turun dari angkot depan lawang sewu ke apotek, belum sering kena tilang polisi kalau dianter suami karena masih baru di semarang plus plat ponorogo hehe.

Kalau diinget dulu ngebelain apa coba, ngajar ma kerja di apotek gaji total gak ada 2juta, cuma sekarang ngerasain pengalaman yang mahal ma ilmu.
Kebayang kan kalau pagi ngajar pas malem masih suara langtang kasih informasi obat ke pasien, ya kelebihanku waktu kerja di apotek mengenai informasi obat ke pasien waktu menyerahkan obat, atau menelfon dokter ketika ada pasien minta diganti obat generik karena kemahalan.
Jujur aja kerja di apotek itu butuh kaki yang kuat karena wara wiri ke ruang racik, balik ke depan nyerahin obat, ambil obat, tetapi diriku kurang lihai dalam meracik obat karena bukan dari smk tapi smu juga kuliah s1 dan  profesi menjurus industri yang hanya dapet pengetahuan meracik selama 5taun cuma 2 atau 3 sks.

Akhirnya diriku resign dari apotek karena suami suka khawatir pulang malem jam 11 ma capek mengingat waktu itu jelang 2taun nikah belum ada anak.
Yah tapi walau cuma bentar 3 bulan pe 6 bulan karena apoteknya yang ada masalah intern pemiliknya lebih baik mengundurkan diri karena merasa diperlakukan layaknya asisten apoteker gaji juga tidak sesuai.

Mengingat dulu di 2007 di bandung digaji 1,8juta sama2 sebagai APA di perumahan pinus regency soekarno hatta depan rs al islam, ya dulu bertahan 3bulan karena lagi2 tidak sesuai dengan pemilik, gaji janji 1,8juta tapi cuma 800ribu dan kendala di perijinan, dulu pertama jadi APA perjanjian dengan notaris, kudu bikin SP surat penugasan dan tentu sertifikat kompetensi apoteker yang dulu didapat dari IAI sehabis sumpah apoteker dan kukus ujian apoteker dengan bayar 600ribu rupiah.

2008 pernah kerja di poliklinik pertamina dengan Gasibu Bandung tetapi sebagai apoteker pengganti selama seminggu hanya dapet 400ribu seminggu, tapi enaknya gak perlu meracik hanya kasih resep obat2 paten karena yang berobat hanya pensiunan pertamina yang kebanyakan sakit jantung, diabetes sama darah tinggi.
Yah dari 2007 sampe 2010 kerjaku tidak ada yang lama cuma bertahan 3bulan aja hehe.
Jadi 2x bikin kontrak kerja sebagai APA sama PSA/ pemegang saham apotek.

Tiap kali keluar ada pembatalan kerjasama pake materai, padahal untuk nyampe ke notaris itu harus ada SP ngurus ke jakarta, ada rekomemdasi dari IAI/ikatan apoteker indonesia cabang dan pusat plus sertifikat kompetensi apoteker, wah ribet dan rempong deh.
Tapi kasian ya udah dulu susah belajar mahal pula s1 farmasi dan profesi apoteker.
Alangkah lucunya negeri ini emang, dunia kuliah tidak seidealis dunia kerja, dimana kadang kejujuran sudah jarang, malah tipe penjilat bos yang biasa dipertahankan, sementara yang dijujur dibikin tidak nyaman hehe.
Sering ketika kerja di apotek resep diganti obat generik ketika racikan tapi dihargai obat paten ke pasien,terus kebersihan tangan si peracik yang kurang steril, miris memang.
Tapi walaupun cuma sebentar2 alesan tidak sreg di hati dan prinsip bertentangan tapi itu pengalaman berharga untukku.

Saturday, January 2, 2016

Wisata pantai bandengan jepara

January 02, 2016 7 Comments
Dari semarang ke jepara hanya sekitar 2jam lebih, di jalan banyak yang jual duren sekitar 25 ribuan dan rambutan 2 ikat 15 ribu.

Pantai bandengan bisa untuk banana boat dan naik perahu keliling pantai, karena ombaknya kecil.
Di pesisir pantai bisa ngambilin cangkang kerang siput dan terumbu karang yang sudah tidak hidup. Bisa untuk hiasan dalam meja yang ada pasir2an.


Tiket masuk pantai bandengan ini murah hanya 3 ribu rupiah per orang plus parkir mobil 3 ribu rupiah juga.





Makan siang di rumah dahar mbak wien tempatnya lumayan adem karena dari bambu dan atap jerami termasuk makan ayam penyet, jeruk anget, orange kiss (mangga campur jeruk), es jeruk, tempe mendoan, terung penyet, nasi uduk buat 4 orang hanya 91 ribu rupiah.