Menyusuri sepanjang jalan kenangan kota lama


Sabtu kemarin, 23 September 2017, kita malmingan di festival kota lama, yang berjualan disini adalah komunitas padang rani.
Festival kota lama sudah dari sejak 2012, kawasan ini disiapkan untuk Kota Lama menuju World Heritage 2020 dari UNESCO.


Ada stand kemerdekaan juga nih.
Tahun ini Oen's Semarang Foundation (OSF) bekerjasama dengan stakeholder Kota Lama, rekan-rekan Kota Lama, dan beberapa komunitas berdomisili Belanda serta masyarakat yang peduli dengan kota lama.


Nah kemarin sore ikutan walking tour bersama komunitas bersukariawalk.
Pasar sentiling ini ada pernak pernik tempo doeloe.
Nih salah satunya setrikaan arang ini, jadul pisan ya.



Tertarik dengan teko dan cangkir jadul ini, inget almarhumah nenekku. Peralatan dari seng ini dulu hits loh, dan sekarang banyak dicari orang.
Ada juga tv, kursi meja dan wayang suket di pasar sentiling ini.
Wayang suket dewi sri, tradisi jawa yang hampir punah, kalau leluhur lita dulu nyimpen wayang suket di dapur, agar tidak kehabisan bahan makanan.


Nah kalau ini taman srigunting, bisa berfoto dengan properti yang ada, seperti sepeda ini dan bayar sukarela ke dalam kotak yang disediakan.
Nah belakangku itu gedung Marba, yang kasih nama orang Yaman katanya.
Di Semarang terdiri dari etnis Jawa, etnis Cina dan etnis Khoja.


Ini dia ikon kota lama, gereja blenduk, di dalamnya katanya ada urutan pendeta siapa saja yang pernah memimpin disini, gereja ini anti gempa loh.
Kawasan kota lama dulu dikasihkan ke Belanda, karena Sultan Amangkurat 2 punya utang ke Belanda makanya membayar dengan menyerahkan kawasan Kota Lama waktu itu.

Tidak semua bangunan di kawasan kota lama Semarang dimiliki oleh orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda.
Namun pengusaha keturunan Tiong Hoa juga memiliki kantor disini.
Pengusaha itu bernama Oei Tiong Ham, dia kaya karena pabrik gula yang dimilikinya.


Ada Exhibition di gedung Samudera Indonesia, yang dulunya pernah jadi gudang beras.
Dipamerkan perjalanan panjang kota lama, di Semarang V.O.C membangun fasilitas perdagangan berupa pelabuhan dan benteng untuk pengamanan, perdagangan dan pertahanan militer apabila diserang dari sekitar.
Bentuk benteng segilima atau pentagon mengililingi kota lama, sebelah barat menjadi jalan Mpu Tantular, sebelah utara menjadi jalan di selatan polder yang sejajar jl.Tawang, bagian timur jadi jl.Cendrawasih, dan selatan menjadi jl.Sendowo.

Pemintakatan bersumber dari Perda No.8 tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan/RTBL.
Segmen 1 pusat budaya, segmen 2 rekreasi, segmen 3 perkantoran komersial, segmen 4 perkantoran komersial&perdagangan tradisional, segmen 5 pendidikan, perkantoran dan perdagangan modern.



Bangunan ini Semarang galery, dulunya merupakan De Indische Lloyd, dipakai untuk ibadah umat Katolik tahun 1875.
Bangunan ini kemudian diruntuhkan dan dibangun gedung baru pada 1918.
Gaya arsitekturnya terpengaruh oleh gaya Spanish Colonial dan tak ada halaman.
Tepat di depannya Paradeplein, taman yang sering dipakai serdadu Belanda berparade dan terletak ditepi jalan Anyer-Panarukan yang dibangun Daendels 1811.

Perusahaan asuransi pertama "De Indische Llyod" milik Oei Tiong Ham Concern 1933, pertama kali menempati gedung ini.
Pengusaha pribumi terkemuka di Semarang Taspirin pernah memiliki gedung ini, untuk disewakan sebagai gudang, dealer motor, kantor Perusahaan Besar Farmasi Tempo, dan terakhir pabrik sirup Fresh sampai 1998.
2007, Chris Dharmawan melakukan konservasi dan 2008 digunakan sebagai Semarang galery.
Filosopinya pertemuan antara manusia, budaya, seni dan idealisme dalam sebuah ruang akan selalu menghasilkan keindahan bagi kehidupan manusia seutuhnya.
Sayang pas kami kesini, udah mau tutup, jadi gak sempat lihat dalamnya.


Gedung Der Spiegel,  dahulu jaman Belanda pernah jadi bengkel otomotif,  sekarang jadi tempat nongkrong asyik, makanan dan minuman tersedia disini,  terutama nih ya gellatonya enak banget, bikin nagih,  aku suka yang rasa aneka buah hmm yummy deh. 




Gedung asuransi Jiwasraya juga merupakan cagar budaya.
Berjejer dengan Marba dan ikan bakar Cianjur.




Ada gedung Telkom, yang pelatarannya disulap menjadi tempat kongkow yang asyik.


Nah bisa juga menyewa vespa ini untuk menyusuri sepangjang jalan kenangan, kalau capek berjalan.



Ini spot yang hits, sudah lama penasaran ini letaknya dimana sih, nah baru tahu berkat ikutan bersukariawalk, hanya bayar 10 ribu per orang, bisa menyusuri jalan kenangan di kawasan kota lama dan sekaligus dapat pengetahuan selama 2 jam lamanya.
Pohonnya unik karena tumbuh diantara gedung ini. Pernah dipakai shooting film ayat-ayat cinta disini. 


 

Gedung ini, dulunya dipakai broker, jual beli saham disini.


Ini di dalam gedungnya, etnic ya, ada sepeda angik, motor jadul, mesin jahit jaman baheula, jam dinding juga kursi tempo dulu, naik ke atas di balkon bisa lihat gedung tua.
Total di kawasan kota lama ada 105 gedung bersejarah, kemarin kita kurang lebih menyinggahi lebih dari 9 gedung tua.


Nah kalau ini sih jembatan Berok, sudah ada dari jaman Belanda loh.
Kenapa dulu orang Cina mendarat di Semarang di Mangkang sana dulu, termasuk Laksamana Ceng Ho, karena geografis Semarang ada pelabuhan unsur air, dan dikelilingi gunung Ungaran dan Muria, menurut Fengsui ini hoki, kalau bisnis di Semarang pasti laris dan jadi kaya.


Belakang kita persia gedung bank Mandiri, yang merupakan BUMN.



Disini tempat jualan gule kere, katanya karena tempat makan orang yang duitnya pas-pasan, dulunya salah satu stasiun pemberhentian Trem sampai Java Mall pas zaman Belanda.


Jalur jalan kenangan masih berlanjut sampai menjelang Magrib, banyak gedung tua berjejer, jadi membayangkan para tuan dan noni Belanda dahulu kala berjalan dengan pakaian khasnya madam dan meneer Belanda sambil pakai payung .
Sayangnya ada yang terawat dan tidak.


Nah finishnya sepanjang jalan kenangan disini, pabrik rokok perahu layar, yang masih berdiri sampai sekarang dari jaman Belanda.
Karena Jawa ada Kejawen, rokok salah satu sesajennya heuheu.
Jaman dulu sudah ada penjualan opium untuk orang Belanda yang berduit. Wah haram ya, mending jauhi Narkoba hehe.


Nah setelah ikutan walking tour, bisa masuk ke polder tawang ada festival kuliner disini, ada sweet mango splash enak banget ama es teh manis.
Harganya agak lumayan tapi enak.
Berbagai kuliner dari hotel pun tersaji di berbagai stand makanan, dan ada panggung, sambil makan diiringi musik gamelan.
Ada juga berbagai pernik hasil dari UMKM.
Seru bukan menyusuri sepanjang jalan kenangan di kota lama, apalagi ada festival kaya gini.
Yuk buruan kesana mumpung masih ada sampai malam ini 😊.



Komentar

  1. pas ke semarang gak kesampean ke kota lama, seru nih ada festivalnya ... sempet ngobrol2 dgn sesama blogger soal kota lama di semarang yg memang bakal dijadiin kota wisata bangunan tua

    btw aku salfok sama vespa sespan pinky ituh, cute !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mbak, banyak bangunan yang jadi cagar budaya, dan banyak sejarahnya, aku aja baru tahu kemarin silsilahnya ikutan walking tour dan karena ada festivalnya, iya mau dijadikan heritage 2020 ama Unesco nih 😊

      Hapus
  2. Belum kesampaian ikut festivao kemarin, semoga sebelum balik ke Jakarta bisa ikut seseruan di kota lama...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak ira semoga taun depan bisa ke festival kota lama, atau pas weekend jalan-jalan di kota lama aja

      Hapus
  3. Melalar asik banget mbak, lihat sejarah2 ny

    BalasHapus
  4. Wah...pengin dtg juga ke festival, tapi sayangnya si bocil lagis batpil dan emak bapaknya ketularan juga hiks... Btw, baru tahu ternyata bangunan tua di kota lama ada pe 105, banyak juga ternyata kirain paling cuma puluhan aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum mbak Alley menurut mas guide walking tournya 😀

      Hapus
  5. Aku ke semarang cuman sempet main ke lawang sewu hihihi standar banget yak, abis cuman satu malam & besoknya harus lanjut jalan lagi ke solo, padahal masih banyak tempat2 di semarang yg pengen aku datangi.. semoga next time bisa ke semarang lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak sandra sayang banget ya, semoga besok bisa ke Semarang lagi ya 😊

      Hapus
  6. Seringnya lewat doang kalo ke kota lama, ngga pernah jalan-jalan. Kapan-kapan pengen bener bener nikmatin suasananya. Enaknya malam apa sore ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan mbak shinta jalan-jalan lagi nanti kita menyusuri kota lama bersama, asyiknya sore menjelang malam mbak shin biar adem 😄

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca blog saya
Mohon tidak meninggalkan link hidup

Postingan populer dari blog ini

Operasi katarak di rsi sultan agung dengan bpjs

Delman resto semarang

Miss Pink Kitty Cafe and Shop Semarang