Wednesday, September 13, 2023

Garda Terdepan Saat Pandemi


Masih tersimpan dalam ingatan ketika 2020 dan 2021 itu masih pandemi covid lagi heboh dan wabahnya meluas ke semua pelosok negeri ini, bahkan sampai 2022 masih disuruh pada pakai masker. Kecuali 2023 ini wabah mereda, anak-anak sudah sekolah offline lagi dan sudah banyak yang tidak pakai masker. Masih ingat Mei dan Juni 2021, dimana aku dan putri sulungku yang berusia 1 tahun karantina isolasi mandiri di rumah, Mamahku dirawat di RSUD bersama suamiku dan Bapakku dirawat di ICU sampai wafat dan dimakamkan secara prokes di dekat rumah ortu di Garut. 
Momen yang dimana semua tetangga baik hati kirim makanan, minuman dan buah sampai penuh kulkas dan sampai sembuh masih ada itu makanan dan minuman, yang ngirim obat juga herbal ada.

Sedih haru bingung tapi gak panik sih, karena bayangkan aja di rumah cuma berdua sama batita dan untung ada yang ngirim lauk pauk cemilan setiap hari selama 2 minggu tapi pikiran dan hati gak tenang, bahkan ketika Bapak wafat, Mamah dan suamiku gak bisa ikut melihat proses dimandikan dan disolatkan jenazah secara langsung, termasuk ketika ambulans bawa jenazah Bapak dari Bogor ke Garut. Hanya kedua adikku saja yang ikut mendampingi ambulans dan menyiapkan proses pemakaman. Terakhir ketemu adalah ketika sempat isoman dirumahku Bapak 3 hari.

Ya kehilangan dan luka batin karena pandemi sudah aku ihlaskan, legowo, mungkin ada tidaknya pandemi jika sudah waktunya pulang ke pangkuan Ilahi ya bakalan pulang. Banyak hikmahnya waktu itu walau suami dirawat dan isoman, penjualan meningkat karena mungkin kan obat-obatan terutama suplemen kesehatan sangat laku keras di apotek dan RS. Alhamdulillah dapat bonus bisa renovasi rumah dikala pandemi, ya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang gak menguji di luar batas kemampuan kita. 

Dan aku selalu ingat juga jasa para garda terdepan saat pandemi covid 19, dokter dan suster yang berpakaian APD lengkap, panas pengap tapi rela merawat para pasien covid. Salut buat mereka, karena gak ada hubungan darah alias saudara kandung, tapi berjasa dan berkorban atas nama kemanusiaan, sungguh salut aku tuh.


Mbak Ika Dewi Maharani di Surabaya Jawa Timur, mendapatkan Apresiasi SATU Indonesia Awards 2020, karena menjadi relawan medis di Jakarta. Mbak Ika waktu itu lagi menunggu wisuda di STIKES Hang Tuah Surabaya saat mendengar kabar dari salah satu relawan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia(HIPGABI). Relawannya sebagai perawat yang bisa menyetir ambulans. Meski sempat terpikir oleh mbak Ika takut terjangkit covid, tapi Mbak Ika punya tekad kuat melayani pasien bagaimana pun kondisi pasiennya.

Di saat perawat-perawat perempuan lain melayani di rumah sakit, Mbak Ika dengan pengetahuannya sebagai perawat dan keahliannya dalam mengemudi, mengisi posisi relawan yang sangat dibutuhkan dalam mengantarkan pasien ke rumah sakit ini. Ketika awal Mbak Ika bertugas sudah 11 pasien dievakuasi, selain lansia di atas 50 tahun, mbak Ika juga mengevakuasi pasien usia 25-35 dengan kondisi Orang Tanpa Gejala/OTG. Selama 4 bulan lebih bertugas, mbak Ika sudah mengantarkan puluhan pasien Covid 19 dengan status ringan hingga sedang. Harapan mbak Ika sekarang sudah terwujud pandemi tahun 2023 sudah reda. Semoga kedepannya gak ada lagi penyakit wabah atau bencana yang menimpa rakyat dan negeri Indonesia ini, Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya
Mohon tidak meninggalkan link hidup